Bulan
desember yang putih dan dingin. Hujan salju ringan sedari malam tak kunjung
reda juga. Sudut-sudut kota kecil yang penuh kisah. Terlihat usang yang penuh
kasih. Gonggongan anjing samar-samar terdengar dari balik gang. Deru mobil
pembersih salju berjalan pelan. Orang lebih suka menghabiskan waktu dalam rumah
bersama yang tercinta.
Tanpa sadar
aku sudah lama menikmati siluet hitammu. Hangat dan tenang didepan perapian
rumahmu. Sesekali wanita paruh baya riwa-riwi membawa nampan kecil berisi cangkir dan makanan ringan. Kepulan asap ringan membumbung perlahan lalu
hilang. Kamu tersenyum dan sedikit mengangguk. Entah apa yang dibicarakan
wanita dengan syal tebal di lehernya.
Ah, betapa
aku rindu senyum itu. Senyum yang sering kamu lempar saat disekolah dulu.
Potongan rambut yang tak pernah berubah, namun sedikit bervolume. Cara duduk,
cara bagaimana kamu memegang cangkir dan membenarkan posisi duduk.
Keindahan
yang tak bisa aku jamah lagi. Dua belas tahun silam adalah hal yang nyata. Bak
film usang yang diputar ulang. Membuatku ingat akan kisah itu. Diperlakukan
dengan penuh cinta dan perhatian. Lagu sendu seperti tak mau sendiri melantun.
Sedalamnya syair, tak bisa membuatku memilikimu lagi.
Bangku besi
yang beku, tak ku hiraukan hawanya menembus mantel tebalku. Salju kembali turun
lagi. Beberapa kepingnya masuk kedalam gelas coklatku yang panas. Membuatnya
meleleh dan menyatu. Beberapa lainnya hinggap dibulu mata dan topi tebalku.
Ternyata aku
masih serindu itu ingin terus berada dalam dekapmu. Ujung kancing rompimu yang
tak sempat dikait, terbang bersama angin dan berdesis. bersama tenggelamnya
senja, diatas dua rodamu. Tidak ada percakapan. Suara bising motor dimusim semi
yang tak ku hiraukkan. Hanya cinta yang berderu keras dihati.
Aku lupa
harummu. Tapi manisya bibirmu tak bisa aku lupa begitu saja. Sampai coklat yang
belum sempat aku nikmati – tak bisa menandingi manisnya cinta kita.
“ah, aku terlalu
berlebihan bukan?”
Kamu
beberapa kali membolak-balik buku dipangkuan. Betapa kam berada jauh menyusuri
setiap kalimat-kalimatnya. Tak heran tata bahasamu bagus dibanding kawan-kawan
seumuran. Seperti mengingat bait perasaan yang aku duakan.
“ ha ha ha
ha”
Aku tertawa
mengenang kebodohanku saat bersamamu. Bagaimana bisa menyukai pria lain disaat
merangkai tawa denganmu. Ingin mencintaimu sekali lagi. Namun, kamu menyadarkan
betapa mustahilnya itu. Berada dalam posisi yang musti jujur pada hati kita masing-masing.
Ternyata aku suka desember bukan karena dingin dan
saljunya. Ada kamu disana. Membawa damai dalam rindu sampai musim berikutnya
tiba. Betapa penyayangnya kamu. Tapi, kamu menjadi kisah yang terabai.
Aku beranjak pergi meninggalkan sisa salju dibangku
kosong itu. Sisa coklatku makin dingin. Aku ingin mencoba rasa yang lain dalam
kedai tak jauh dari sini. Berlari kecil untuk segera mendapat antrian. Aku
dapat dibelakang seorang pria dengan balita 3 tahun. Mereka sedang
memperdebatkan coklat yang akan mereka nikmati. Membuatku tersenyum tipis,
“ Betapa
beruntungnya keluarga kecilnya”
Terlihat
ayahnya kewalahan menjawab setiap petanyaan maupun pernyataan jagoannya. Topi
dinginyya sering naik keatas karena tangan yang tak mau diam. Anak laki-laki
itu melihatku.
“ ibu mau
coba lagi?”
“ibu mau
coklat yang mana lagi”
“apakah yang
kamu pilih akan sama lagi?
---N----
Komentar
Posting Komentar