Bulan desember yang putih dan dingin. Hujan salju ringan sedari malam tak kunjung reda juga. Sudut-sudut kota kecil yang penuh kisah. Terlihat usang yang penuh kasih. Gonggongan anjing samar-samar terdengar dari balik gang. Deru mobil pembersih salju berjalan pelan. Orang lebih suka menghabiskan waktu dalam rumah bersama yang tercinta. Tanpa sadar aku sudah lama menikmati siluet hitammu. Hangat dan tenang didepan perapian rumahmu. Sesekali wanita paruh baya riwa-riwi membawa nampan kecil berisi cangkir dan makanan ringan. Kepulan asap ringan membumbung perlahan lalu hilang. Kamu tersenyum dan sedikit mengangguk. Entah apa yang dibicarakan wanita dengan syal tebal di lehernya. Ah, betapa aku rindu senyum itu. Senyum yang sering kamu lempar saat disekolah dulu. Potongan rambut yang tak pernah berubah, namun sedikit bervolume. Cara duduk, cara bagaimana kamu memegang cangkir dan membenarkan posisi duduk. Keindahan yang tak bisa aku jamah lagi. Dua belas tahun silam adalah hal ...
Bagaimana hidupmu mengajari berbagai hal