Langsung ke konten utama

The End

"dia beristri!"
bisik-bisik kecil ku lirihkan

"dia sudah tidak pantas dikasihani"

aku menahan kaki yang ingin terus berlari
mengejar obat hati yang terbawa pergi
harusnya tak seperti ini 
lelah yang tek semestinya dirasa

"bagaimana jika kamu terluka sayang"
"sudah kubuatkan dinding, agar kamu tetap disini bersamaku"

Dia, hati terus berbicara

"kamu punya dia"
"dan dia terus tumbuh untuk bertemu, menyatu"
"tunggu saja takdirmu, jangan sampai salah lagi"
"bukannya kamu telah mematok: siapa yang layak kamu bukakan?"
"jangan bermain api"
"jangan sebarkan serbuk sari pada putik"

sampai akhirnya...
aku harus berdiri pada hati sendiri, pada kaki yang terlanjur lara.
melanjutkan hari yang selalu dinantikan.

"tinggalkan dia"
"tutup kisah tentangnya"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujung Rasa

Terimakasih rasa Menemukannya memang tak mudah Mengundangnya juga tak mungkin Aku menikmati keindahan mu Ku temukan pula jawabanmu Sepenuh tenaga kumpulkan menjadi tekad Beranikan diri untuk tahu Agar lebih sadar, tidak rabun atau sejenisnya Dia memang memenuhi jiwaku Dan tidak kutemukan di mana untuk keteguhannya Maaf sayang aku goyah Rasaku pada kenyataannya adalah palsu Kenangan-kenangan diingatkan ternyata semu Bisik-bisik panggilannya mulai layu Dibungkus hal sama rata, sama rasa Aku salah mengartikannya Tak banyak yang dibicarakan. Tersadar... Pada akhirnya air yang tertiup angin tidak menciptakan gelombang tinggi Terdengarnya hanya gemercik ombak yang menipis di bibir pantai. (Untuk perasaan yang berani berbicara tidak untuk menduga2) _________________ 20 mart • 03:17