Langsung ke konten utama

Kaca

Jumat/01:25/270718

Ada seseorang yang benar-benar saya sudah percaya dia menjadi akhir pelabuhan hati. Mendekatinya dgn kesabaran. Menjaga Kata agar tak mengecewakan. Sedikit mengenal keseharian.

Melewati media sosial/FB kami memulai perkenalan singkat,.

Memang sampai hari ini belum pernah bertemu. Untuk video call saja tidak pernah. Dan yang aku ingat hanya ada beberapa voice note yang terkirim karena permintaan sederhana nya, mendengar kan suaraku. Itupun tadi.

Beberapa fotopun aku baru saja hapu, nomor nya aku blokir sementara, Inbok FB aku 'libur'kan juga.

Senjata makan tuan yang tidak pernah terfikir kan. Iya,,, memberitahukan nya tentang "PL suka2" sebutku.

Tanpa aba-aba cukup lama. Bermula 3 kata, dia tanggapi celotehan isengnya. Siapa sangka aku mulai merasakan keganjilan yang dia pertanyakan..

Aku tidak mengatakan 'iya' ataupun 'tidak'. Tapi dia terus mengalirkan pertanyaan tanpa pikir panjang. "Bagaimana itu bisa terjadi?"
Menjawabnya pun tidak akan menyelesaikan masalah. Atau diam saja?
Itu membuatnya semakin ingin tau apa yg 'serigala sembunyikan dibalik bulu dombanya'?? Mengelakkan kata2 yang sudah jelas tertulis. Terlihat bodoh.

Aku terpaku 'typing' dibawah nama kontaknya. Dari tulisannya dia memaklumi, menasehati. Oh tuhan??? Aku merasa sangat hina disini. Menyecroll lagi apa yg dia kirimkan. Tanpa disadari si-air mata mengisyaratkan kesedihan mendalam.

Kemudian aku disini mulai pasrah melepaskan hati pada pelabuhan yg siap mengembalikan jangkar pada perahunya.

Aku membacanya lagi, menimbang segala kata2nya. Apa ini yang jelas tertulis pada An-Nur ayat 26 itu??

Mengaca kembali Pd kisah lalu. Mengintrospeksi pada hari ini. Aku belum baik, namun bagaimana bisa mengharapkan yang terbaik?? Masih se-fasik ini , mendamba yang menarik??
Bukan dosa juga kan?? Tapi luka.
Melukai hati selunak itu dengan keegoisan pengharap berlebihan. Bagaimana itu tidak menjadi luka?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Hitung

Bahkan saat suatu hari nanti jika sudah waktunya perhitungan amal Siapa yg akan menyaksikan atau bercerita ketika aku hidup Jika dia adalah mulut.  Dia akan mengatakan "Saat saya sudah berkeluarga dengan Fulan. Saya tidak pernah diajari mengaji" Jika dia adalah tangan  Dia akan mengatakan "Saya sudah diajari bagaimana memberi dengan yg berkasih" Jika dia kaki Dia akan mengatakan "Sejauh ini saya blm pernah diajak kepada majelis yg baik" Jika dia adalah seluruh anggota tubuh  Dia akan menyaksikan "dibandingkan dengan kebaikan. Saya lebih berjalan sendiri drpd diajari. Saya bergerak krn pesangon dr orang tua" 22,2310

Ujung Rasa

Terimakasih rasa Menemukannya memang tak mudah Mengundangnya juga tak mungkin Aku menikmati keindahan mu Ku temukan pula jawabanmu Sepenuh tenaga kumpulkan menjadi tekad Beranikan diri untuk tahu Agar lebih sadar, tidak rabun atau sejenisnya Dia memang memenuhi jiwaku Dan tidak kutemukan di mana untuk keteguhannya Maaf sayang aku goyah Rasaku pada kenyataannya adalah palsu Kenangan-kenangan diingatkan ternyata semu Bisik-bisik panggilannya mulai layu Dibungkus hal sama rata, sama rasa Aku salah mengartikannya Tak banyak yang dibicarakan. Tersadar... Pada akhirnya air yang tertiup angin tidak menciptakan gelombang tinggi Terdengarnya hanya gemercik ombak yang menipis di bibir pantai. (Untuk perasaan yang berani berbicara tidak untuk menduga2) _________________ 20 mart • 03:17

Merenung

Biarkan ekspektasimu menjadi ekspektasimu Harapan hanya harapan Banyak hal didunia memang tidak semua nyata Ia lebih indah disanubari sahaja Lelahmu menjadi lillah Ibadahmu tidak serta merta yg akan membawa surga Tp menyadari itu hal yg harus terus diperbaiki dan ditingkatkan lagi Karena harapan ditiru untuk generasi selanjutnya hanya itu Yg mengantarkan pada shodaqoh jariyah hanya itu 22,2111