Diajaknya berdiskusi tentang air mata yang dibiarkan menggantung di mata kirinya. Pembicaraan tulusnya dibiarkan mengapung. Tidak ada sesal ataupun segaris tipis sutra kepergian.
Adakah yang bisa membaca?
Tuhan..
Apa yang kau lampirkan pada hati yang sayu ? Siapa perduli rasa pahit dalam otak batu itu?
Aku berperan sebagai lacur hati.
Ada didaftar kamusmu, bahasamu, pikir mu, atau tidak...
Dia berlari mencari takdir. Ingin dalam keingin taunya. Mengetahui ujung masa. Pada masa yang mencoret rasa.
Dia berlari mencari takdir. Ingin dalam keingin taunya. Mengetahui ujung masa. Pada masa yang mencoret rasa.
Bukan dalam paragraf dia dituliskan. Satu hurufpun takan didapatkan. Masih berani membingungkan?
Pengemis pengertian tidak seharusnya disini. Matipun misteri. Mengiri atas prestasi. Kau harus se-presisi, misal ini?
Pelantun kata, dengarkan sepenggal lirik lagu mu. Agar aku ber-ta'lim , sesuai janjiku pada kehidupan.
(Untuk mu mas Muh, Kamis 2 Agustus 2018/ 1:04)
Komentar
Posting Komentar