Langsung ke konten utama

cerpen pjtl



BANGUNLAH MIMPI

Beberapa hari ini aku dipusingkan dengan begitu banyak pertanyaan yang muncul silih-berganti di kepalaku ‘’Ah, mengapa semua orang mempertanyakan hal itu?” Aku memilih bergegas melangkah meninggalkan segerombolan anak-anakalay yang selalu membuatku minder. ‘’Sekolah SMA favorit dikota selalu saja menjadi pembahasan mereka’’gumamku terusik.
Aku siswa tingkat akhir di Sekolah Menengah Pertama swastadidaerah dekat rumahku.Kedua orang tuaku seorang petani dan pedagang sayur. Tidak heran jika pendidikan setinggi apapunorang tua pasti mewajibkan bekerjadi kebun. Sewajarnya kehidupan dipegunungan, sejak pagi buta kaki seolah wajib melangkah pada rumput yang masih basah oleh embun, petang sebagai peringatan untuk pulang
“pak?” panggilku lirih hampir tak terdengar.
ono opo to, nduk (Ada apa to nduk)?” jawab bapak lengkap dengan logat jawanya.
“Aku nerusin ke SMA 1 kota ya pak” aku memberanikan diri untuk mengubah nasibku. Agar tak hanya mengolah tanah warisan keluarga dan menunggu jika suatu saat ada seorang lelaki yang mau mempersuntingku. Ah, aku tak mau seperti itu.
Nang ngalas nandur lobis wae. Ngurusilemah sek nang kidul balai deso. Gari rabi momong anak to, nduk(Ke kebun menanam kubis aja. Mengurus tanah di selatan balai desa. Tinggal nikah ngarawat anak)?”
Untuk pertama kalinya kata itu langsung terdengar saat aku mengutarakan niatku pada bapak. Ya, begitulah yang sering didengar bila anak-anak bapak ingin meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Sama jawaban dengan pertanyaan keduambakku. Pilihannya hanya dua: mondok ikut mas Khabib atau dirumah bantu bapak?
Rasa kecewa, kesal menyelinap pelan. Tubuhku merebah lemas di atas kasur yang mulai keras dan dingin.  Anganku seakan menggantung dilangit-langit kamar. Senyumku layu terhempas. Keinginanku adalah keluar dari roda kemiskinan yang selama ini berputar disitu saja. Mataku mulai panas, dadaku terasa sesak. kerongkonganku kering, ada sesuatu yang berhenti disana. Itess…tess… butiran air mataku mulai berlomba-lomba keluar. Membanjiri bantal.

**
Hatiku berbisik “kamu merindukan ibu”. Sesosokperempuan yang menjadi tulang punggung keluarga. Langkah kakinya yang tak pernah lelah melangkah, punggung ‘besi’nya yang kokoh menggendong berpuluh-puluh kilo barang. Namun, semua tinggal kenangan. Beliau telah pergi. Pelukannya tak lagi aku rasakan lagi.
            “Sari !! cepat kesini bantu mbak masak. Jangan jadi perawan pemalas. Semua mbakmu itu nggak ada yang nerusin sekolah, rasah angel-angel dikandani (Jangansusah-susahdibilangin)" teriak mbak pertama.
Aku menyeka air mataku, keluar Menghampiri mbak yang sedang memotong wortel.‘’Sekolah tingi-tinggi itu buat apa? Paling ujung-ujungnya juga didapur.” sambungnya.
Semakin tak kumengerti saja apa kata mbak. Mbak sama saja dengan bapak. Pemikirannya masih seperti orang Jawa kebanyakan. Mengingnkan anak perempuannya hanya berkiprah di rumah saja. Masak, Macak, Manak.
            mbak, aku mau mondok...” alihku lirih sambil menggantikannya memotong wortel.
            kono omong dewe(Sanabilangsendiri)sama bapak !” ucapnya sadis.Aku mengangguk pelan. Tak kusangka tiba-tiba bapak telah ada di belakangku. Bapak mendengarkan semua yang kami bicarakan baru saja.
            “sing arep biayani sopo ?” ucap bapak ”wes tho nduk,, nang ngalas wae, ngewangi mbakmu.. bapakmu wes tuo, ora kuat.. mbok ngertiyo tho nduk,,(Yang maubiayanisiapa?Udahndukkekebunajabantumbakkamu.Bapakkamuudahtua,uahnggakkuat..mengertiya)"
Hatiku semakin sakit ketika mendengar pilihan jawaban dari bapak. Kecewa bercampur marah.
“kalau bapak hanya mengikuti tradisi dari simbah terus. Kita kapan majunya ?” bantahku.
Bapak tetap bersikukuh memegang tradisi. Aku dimaki-maki seolah aku adalah terdakwa didepan hakim. Divonis bersalah karena melanggar tradisi dan etika kepada orang-tua. Argumen-argumen terus bergulir. Aku hanya mendengar celotehan bapak yang di ulang-ulang. Namun, masih membahas hal yang sama membuatku ingin menyudahi beliau bicara. Semua tertahan di tenggorokan.
“Bapak itu kenapa sih, mbok yo tau dikit to. Kita itu orang miskin ilmu pak, kenapa masih saja membuatnya terpupuk subur disini !”ucapku sebelum menghilang dipintu depan.
**
Sudah dua hari aku tidak keluar kamar. Mbak trus mencoba mengetuk pintu agar aku keluar. Ia tak lelah mengingatkankuuntuk sholatdan makan. Awalnya aku tak menggubrisnya. Namun, ada satu ucapan darinya yang membuatku ‘terbangun’ lagi.
“Kalau ingin mondok tanya kang Khabib saja. Nantibiaya bisa dicari bareng-bareng” pinta mbak dibalik pintu kamarku. Terdengar suaranya parau.
Tak selang sehari setelahnya, diam-diam aku memberanikan diri bertemu kang Khabib dipondok. Aku ceritakan semua keluhkesahku padanya. Sesekali sesegukan, sesekali tertawa menanggapi perkataan kang Khabib yang diluar pembahasan untuk mencairkan suasana.
Kang Khabib adalah saudara laki-lakiku satu-satnya yang penyabar, telaten dan humoris. Meskipun dia bukan anak pertama tapi dia lebih dewasa daripada mbak-mbakku. Dia juga perhatian terhadap siapapun. Maka tak heran jika dia menjadi tangan kanan pak yai. Pembawaanya kalem namun tegas.
Yowes mondok disini saja. Nanti biar Kang Khabib nyuwun ijin pak yai biar kamu tetep bisa mondok sekaligus sekolah”
Nyesss,,seperti es meleleh dibawah terik matahari.  Perasaanku mulai tenang saat kata itu terlontar. Ucapan Kang Khabib memberiku kesempatan lagi menggambarkan mimpi yang sempat kelabu.
**
Bapak dan mbak-mbakku kini tidak lagi memprotes apa yang menjadi keinginanku. Alhamdulillahtak terasa aku sudah 11 bulan dipondok. Itu membuatku lupa dengan rumah. Akses ke sekolahhanya butuh 15 menit untukdengan menaiki angkot biru nomer 3.
Aku punya kebiasaan baru sebagai pengisi waktu luang, aku habiskan dengan merajut wol menjadi tas-tas slempang kecil untuk menghasilkan tambahan uang saku. Aku sadar bila aku tak mungkin megandalkan uang dari kang Khabib terus.
Dalam satu minggu adadua sampai tiga rajutan yang bisa aku selesaikan. Terkadang juga dibantuoleh teman sekamaruntuk menyelesaikan pesanan. Banyak dari pemesan puas dengan hasilnya sehingga tanpa aku mempromosikannya banyak dari tetangga ataupun teman mereka berdatangan untuk order. Dan dari situlah aku mulai mengembangkannya dan menghasilkan pundi-pundi uang.
“Kang, besok lulus SMA aku pengen kuliah.” Pintaku pada Kang Khabib.
“Ya terserah kamu.” Jawabnya sambil tersenyum. Aku lega dan semangat untuk mengejar cita-citaku.
Sekarang tak ada lagi penghalang untuk membangun mimpi ku lebih jauh lagi.
-eND-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hari Hitung

Bahkan saat suatu hari nanti jika sudah waktunya perhitungan amal Siapa yg akan menyaksikan atau bercerita ketika aku hidup Jika dia adalah mulut.  Dia akan mengatakan "Saat saya sudah berkeluarga dengan Fulan. Saya tidak pernah diajari mengaji" Jika dia adalah tangan  Dia akan mengatakan "Saya sudah diajari bagaimana memberi dengan yg berkasih" Jika dia kaki Dia akan mengatakan "Sejauh ini saya blm pernah diajak kepada majelis yg baik" Jika dia adalah seluruh anggota tubuh  Dia akan menyaksikan "dibandingkan dengan kebaikan. Saya lebih berjalan sendiri drpd diajari. Saya bergerak krn pesangon dr orang tua" 22,2310

detik P A L S U

Lekukan cangkirmu masih ku amati Tak juga ku sentuh, bahkan tak mau lagi ku toleh isi pekat kopinya Melihat saja sudah cukup Karena hak yang tak layak ku dapat Sesekali sadar, kurasa tidak apa Karena sering ku lebih tidak ingat Biarkan cangkir birumu dielus oleh yang empunya Ku tak lagi perlu ada dibawah bintang, atau diatas rumput basah, atau diantara kedua bola matamu Aku layak dengan hidup ku Dan kau pantas dengan rutinitasmu yang beku

Merenung

Biarkan ekspektasimu menjadi ekspektasimu Harapan hanya harapan Banyak hal didunia memang tidak semua nyata Ia lebih indah disanubari sahaja Lelahmu menjadi lillah Ibadahmu tidak serta merta yg akan membawa surga Tp menyadari itu hal yg harus terus diperbaiki dan ditingkatkan lagi Karena harapan ditiru untuk generasi selanjutnya hanya itu Yg mengantarkan pada shodaqoh jariyah hanya itu 22,2111