Langsung ke konten utama

Belakang kemudi tua

Siang yang cerah. Orang-orang​ sibuk hilir mudik di jalan raya. Bis tua yang terparkir didepan toko setia menunggu manusia menumpangnya untuk sampai pada tujuan mereka.
Langit-langit rapuh dan berlubang dimana-mana. Namun, tidak banyak penumpang yang menghiraukannya. Duduk merebahkan tubuh, hanya itu yang mereka harapkan.
Tanpa disadari mata ini menangkap seorang laki-laki dipinggir jendela dengan sengaja menyalakan rokoknya. Asap memenuhi dalam bis. Aku masih bisa menahannya. Hingga seorang ibu menegurnya. Kedua matanya menyipit. Mengisyaratkan kekesalan namun laki-laki itu akhirnya menyetujuinya.
Dua baris kursi penumpang dari belakang. Perempuan berkerudung Oren bertas ungu terlihat tak mampu lagi menahan kantuknya, sampai-sampai​ kepalanya menyender dibahu orang tidak lagi dia rasakan.
Ah sudahlah. Biarkan kepalanya menyender di bahuku.
Tak selang lama terdengar suara ibu-ibu memenuhi bis. Logat Jawa yang kental dan suara lantangnya seolah tak ingin kalah dengan suara deru mesin bis.
''Iyo ngalase wae nganti Ra di openi (iya sampai ladangnya saja tidak dirawat)" bersama ibu-ibu lainya pembicaraan mereka mengalir.
Dingin mulai merambat memasuki serat-serat baju hitamku sampai ke kulit. Lumayan dingin namun sudah terbiasa.
Ah, lihatlah bagaimana mataku yang lelah tiba-tiba 'semangat' melihat laki-laki berjaket putih ala-ala santri. Imajinasi ku melayang.
"Bagaimana jika meminta nomor ku atau sekedar kenalan"  tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Antara memainkan khayalan atau membunuhnya​.
Dia dengan temanya terlihat asing. Tempat duduk yang terpisah membuat satu diantaranya tidak tenang. Sering kali melihat kebelakang.
Saat itulah perempuan berkerudung Oren membenarkan bentuk kerudung nya yang merosot. Membuka buka pembicaraan ringan. Anak institut yang sama, beda jurusan dan tidak pernah kenal sebelumnya. Dia wanita yang sedikit pendiam. Kulitnya putih dengan penampilan ala santriwati​. Semester ke-6.
Matanya menyapu pemandangan luar jendela yang tak lagi bening  kacanya. Tawa-tawa kecil ditengah pembicaraan serta asyik dengan pembahasannya. Tanpa sadar telah sampai tujuannya​, mengakhiri ceritanya pula.
"Pak berhenti di jalan tikungan depan tambal ban ya" 14:48-15:10

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ujung Rasa

Terimakasih rasa Menemukannya memang tak mudah Mengundangnya juga tak mungkin Aku menikmati keindahan mu Ku temukan pula jawabanmu Sepenuh tenaga kumpulkan menjadi tekad Beranikan diri untuk tahu Agar lebih sadar, tidak rabun atau sejenisnya Dia memang memenuhi jiwaku Dan tidak kutemukan di mana untuk keteguhannya Maaf sayang aku goyah Rasaku pada kenyataannya adalah palsu Kenangan-kenangan diingatkan ternyata semu Bisik-bisik panggilannya mulai layu Dibungkus hal sama rata, sama rasa Aku salah mengartikannya Tak banyak yang dibicarakan. Tersadar... Pada akhirnya air yang tertiup angin tidak menciptakan gelombang tinggi Terdengarnya hanya gemercik ombak yang menipis di bibir pantai. (Untuk perasaan yang berani berbicara tidak untuk menduga2) _________________ 20 mart • 03:17