Siang yang cerah. Orang-orang sibuk hilir mudik di jalan raya. Bis tua yang terparkir didepan toko setia menunggu manusia menumpangnya untuk sampai pada tujuan mereka.
Langit-langit rapuh dan berlubang dimana-mana. Namun, tidak banyak penumpang yang menghiraukannya. Duduk merebahkan tubuh, hanya itu yang mereka harapkan.
Tanpa disadari mata ini menangkap seorang laki-laki dipinggir jendela dengan sengaja menyalakan rokoknya. Asap memenuhi dalam bis. Aku masih bisa menahannya. Hingga seorang ibu menegurnya. Kedua matanya menyipit. Mengisyaratkan kekesalan namun laki-laki itu akhirnya menyetujuinya.
Dua baris kursi penumpang dari belakang. Perempuan berkerudung Oren bertas ungu terlihat tak mampu lagi menahan kantuknya, sampai-sampai kepalanya menyender dibahu orang tidak lagi dia rasakan.
Ah sudahlah. Biarkan kepalanya menyender di bahuku.
Tak selang lama terdengar suara ibu-ibu memenuhi bis. Logat Jawa yang kental dan suara lantangnya seolah tak ingin kalah dengan suara deru mesin bis.
''Iyo ngalase wae nganti Ra di openi (iya sampai ladangnya saja tidak dirawat)" bersama ibu-ibu lainya pembicaraan mereka mengalir.
Dingin mulai merambat memasuki serat-serat baju hitamku sampai ke kulit. Lumayan dingin namun sudah terbiasa.
Ah, lihatlah bagaimana mataku yang lelah tiba-tiba 'semangat' melihat laki-laki berjaket putih ala-ala santri. Imajinasi ku melayang.
"Bagaimana jika meminta nomor ku atau sekedar kenalan" tanpa sadar aku tersenyum sendiri. Antara memainkan khayalan atau membunuhnya.
Dia dengan temanya terlihat asing. Tempat duduk yang terpisah membuat satu diantaranya tidak tenang. Sering kali melihat kebelakang.
Saat itulah perempuan berkerudung Oren membenarkan bentuk kerudung nya yang merosot. Membuka buka pembicaraan ringan. Anak institut yang sama, beda jurusan dan tidak pernah kenal sebelumnya. Dia wanita yang sedikit pendiam. Kulitnya putih dengan penampilan ala santriwati. Semester ke-6.
Matanya menyapu pemandangan luar jendela yang tak lagi bening kacanya. Tawa-tawa kecil ditengah pembicaraan serta asyik dengan pembahasannya. Tanpa sadar telah sampai tujuannya, mengakhiri ceritanya pula.
"Pak berhenti di jalan tikungan depan tambal ban ya" 14:48-15:10
Bahkan saat suatu hari nanti jika sudah waktunya perhitungan amal Siapa yg akan menyaksikan atau bercerita ketika aku hidup Jika dia adalah mulut. Dia akan mengatakan "Saat saya sudah berkeluarga dengan Fulan. Saya tidak pernah diajari mengaji" Jika dia adalah tangan Dia akan mengatakan "Saya sudah diajari bagaimana memberi dengan yg berkasih" Jika dia kaki Dia akan mengatakan "Sejauh ini saya blm pernah diajak kepada majelis yg baik" Jika dia adalah seluruh anggota tubuh Dia akan menyaksikan "dibandingkan dengan kebaikan. Saya lebih berjalan sendiri drpd diajari. Saya bergerak krn pesangon dr orang tua" 22,2310
Komentar
Posting Komentar